"Sherly!" seru Leena, suaranya penuh amarah. "Kau terlalu jauh!" Katanya setelah mendengar kata-kata Sherly yang terkesan menyudutkannya.

Sherly melirik Leena dengan seringai dingin. "Dan kau, Leena, apa kau tidak malu? Kau berdiri di sini mendukungnya tanpa mempertanyakan apa-apa. Kalau dia gagal, apa kau siap kehilangan dia selamanya?"

Kata-kata itu membuat Leena terdiam sesaat, tetapi Lynx segera melangkah maju, berdiri di antara mereka. "Sherly, cukup. Aku tidak pergi untuk diriku sendiri. Aku pergi karena ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan semua orang, termasuk kamu."

"Tentu saja, kau selalu punya alasan," ejek Sherly. "Kau hebat, kau kuat, kau satu-satunya yang bisa menyelamatkan kami. Tapi tahukah kau, Lynx? Kau tidak sempurna. Dan kalau kau gagal di luar sana, kami yang akan membayar harganya."

Lynx merasa kata-kata itu menusuk dalam. Ia menatap Sherly dengan rasa bersalah yang sulit dijelaskan. Tapi sebelum ia bisa membalas, Sherly memutar tubuhnya dengan dramatis, melangkah keluar dari ruangan dengan wajah masam.

"Lakukan saja apa yang kau mau, Lynx," katanya sebelum pergi. "Tapi jangan pikir kami akan menunggumu dengan senyum di sini kalau kau mati."

Hening mengisi ruangan setelah kepergian Sherly. Lynx berdiri kaku, rahangnya mengeras, mencoba menahan emosi. Leena mendekatinya, menyentuh lengannya dengan lembut.

"Jangan dengarkan dia," kata Leena pelan. "Dia hanya marah karena dia tahu kau penting bagi kami."

Lynx menghela napas panjang, matanya menatap pintu tempat Sherly pergi. "Aku hanya berharap dia mengerti, Leena. Aku tidak pernah ingin meninggalkan kalian, tapi aku tidak punya pilihan."

Leena menatapnya penuh keyakinan. "Dia akan mengerti nanti, Lynx. Yang penting, kau harus kembali dengan selamat."

Karim akhirnya berbicara, menepuk bahu Lynx dengan nada menenangkan. "Sherly memang sulit. Tapi dia juga peduli, meski caranya salah. Kau lakukan apa yang harus kau lakukan, dan kami akan menjaga semuanya di sini."

Lynx mengangguk. "Aku akan kembali," katanya tegas.

Saat matahari pagi mulai naik, Lynx berdiri di gerbang perkampungan dengan tas perbekalan di punggungnya. Para penduduk berkumpul untuk mengantarnya, meskipun suasana masih diliputi kecemasan. Leena berdiri di sampingnya, menatapnya dengan campuran rasa khawatir dan harapan.

"Jaga dirimu, Lynx," kata Leena pelan, suaranya penuh emosi.

"Aku janji, aku akan kembali," jawab Lynx, menyentuh tangannya sebentar sebelum melangkah pergi.

Dari kejauhan, Sherly berdiri di pinggir kerumunan, tidak berkata apa-apa, tapi tatapannya yang tajam membuat Lynx merasa semakin berat meninggalkan mereka. Namun, ia tahu apa yang harus ia lakukan.

Dengan tekad di hatinya dan langkah yang mantap, Lynx melangkah masuk ke dalam hutan, memulai perjalanan panjang menuju timur, di mana sekutu baru dan tantangan besar menantinya.

Dengan tujuan mengalahkan Monrest dan tekad di hatinya, Lynx melangkah masuk ke hutan, meninggalkan perkampungan Sinto untuk memulai perjalanan panjangnya mencari sekutu.

Sementara itu jauh di bagian tengah pulau, dimalam Lynx meninggalkan suku Sinto, bulan purnama terlihat menggantung di langit seperti mata yang mengawasi keheningan yang mengerikan. Di tengah dataran luas, altar batu hitam berdiri megah. Batu itu dipenuhi ukiran-ukiran kuno yang bersinar samar di bawah cahaya obor yang mengelilinginya. Suara angin yang menerpa dataran bergabung dengan erangan ketakutan dari puluhan orang yang terikat di tengah lingkaran, dipaksa berlutut di depan prajurit Monrest yang berdiri dengan wajah dingin.

Damon, kepala suku Monrest, berdiri di puncak altar, mengenakan jubah kulit berwarna merah darah  yang menyapu tanah. Wajahnya tegas, namun matanya penuh ketidaksabaran. Di sampingnya, pemimpin spiritual, seoarng dukun tua yang kurus, berdiri dengan tongkat kayunya yang dihiasi tengkorak kecil.

"Diamkan mereka!" perintah Damon dengan suara berat.

Seorang prajurit menendang seorang pria tua yang terus merintih. "Berhenti merengek! Terima saja nasibmu!"

"Tolong! Kami hanya petani!" pria tua itu menangis, suaranya pecah. "Kami tidak melakukan apa-apa! Kami hanya ingin hidup!"

"Diam!" bentak prajurit itu lagi, menampar wajah pria tua tersebut hingga ia terjatuh ke tanah.

Seorang wanita muda di barisan lain mulai menangis histeris, memohon dengan suara parau. "Tolong, bebaskan kami! Kami punya anak-anak yang menunggu di rumah! Jangan bunuh kami, tolong!"

Tangisan dan jeritan mereka menyayat malam, tapi tidak ada seorang pun dari Monrest yang menunjukkan belas kasihan.

Pemimpin spiritual itu mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi, dan suara gemuruh mantra yang ia ucapkan menggema. "Bulan purnama menyaksikan kita malam ini! Dengan darah ini, kami memanggil kekuatan leluhur kami untuk bangkit!"

"Jangan lakukan ini!" teriak salah satu korban, seorang pria muda yang wajahnya penuh keringat. "Kami bahkan tidak tahu apa yang kalian inginkan! Kami tidak ada hubungannya dengan ini!"

Damon turun ke sisi altar, mendekati pria itu dengan tatapan dingin. Ia berjongkok, menatap langsung ke matanya. "Kami ingin kekuatan, dan darahmu adalah harga yang kecil untuk itu."

"Tapi aku tidak punya kekuatan apa-apa! Aku hanya seorang nelayan!" pria itu memohon, air mata mengalir di pipinya.

Damon berdiri tanpa ekspresi dan mengangkat belati panjang dari taring makhluk mutasi yang berkilauan di bawah cahaya obor. "Maka darahmu akan lebih berguna di altar daripada di dalam tubuhmu."

Dalam satu tebasan cepat, ia menggorok leher pria itu. Jeritan terakhirnya terhenti mendadak, dan tubuhnya jatuh ke tanah. Darah mengalir deras ke saluran di altar, bercampur dengan cairan merah dari korban sebelumnya.

Korban lainnya mulai meronta, tangisan mereka semakin kencang. Seorang wanita muda berteriak sambil mencoba melepaskan diri dari ikatannya. "Tolong! Aku punya anak! Mereka tidak akan bertahan tanpaku! Kumohon, lepaskan aku!"

Salah seorang dukun berjalan mendekatinya, tongkatnya menyentuh bahunya. "Anak-anakmu akan mengingatmu sebagai pahlawan. Kau memberikan hidupmu untuk sesuatu yang jauh lebih besar."

"Tidak! Tidak! Kumohon!" wanita itu merintih, namun dua prajurit Monrest menyeretnya ke altar.

"Darah ini adalah persembahan," gumam salah seorang dukun lainnya sambil mengayunkan tongkatnya. "Terimalah."

Belati Damon kembali bekerja, darah wanita itu menyembur ke saluran altar. Tangisannya menghilang, meninggalkan keheningan mengerikan yang hanya dipecahkan oleh isak tangis korban lainnya.

Seorang anak laki-laki kecil, tidak lebih dari sepuluh tahun, menangis terisak di pinggir lingkaran. Ia menoleh ke arah ibunya yang sudah terbaring mati di altar. "Ibu... jangan tinggalkan aku...," isaknya pelan.

Salah satu prajurit Monrest mendekatinya dengan senyuman dingin. "Anak kecil, kau akan segera menyusul ibumu."

Anak itu mencoba merangkak mundur, tapi prajurit itu menariknya dengan mudah. "Tidak! Tolong! Jangan bunuh aku! Aku janji tidak akan mengatakan apa-apa!"

Damon menoleh ke arah prajurit itu. "Biarkan dia terakhir. Dia kecil, darahnya tidak akan cukup berarti. Kita butuh yang lebih dulu."

Anak itu terjatuh kembali ke tanah, menangis tak terkendali.

Setelah korban terakhir untuk malam itu disembelih, altar mulai bergetar, sinar merah samar keluar dari ukiran di permukaannya. Getaran itu semakin kuat, sampai akhirnya berhenti mendadak. Suasana menjadi sunyi.

"Ini belum cukup," gumam pemimpin spiritual dengan suara pelan namun penuh kemarahan.

Damon menatapnya dengan tajam. "Apa maksudmu belum cukup? Kami sudah mengorbankan banyak orang! Apa lagi yang kau butuhkan?"

Pemimpin spiritual mengetukkan tongkatnya ke altar, matanya menyipit. "Ini hanya darah biasa. Kami membutuhkan darah dari seseorang yang memiliki garis keturunan istimewa. Tanpa itu, kekuatan ini tidak akan bangkit."

"Garis keturunan?" tanya Damon, suaranya tajam. "Kita sudah mencoba memanggilnya tapi gagal dan harus menunggu  lima puluh tahun lagi untuk dapat mengulangi?"

Pemimpin spiritual menoleh dengan tatapan penuh keyakinan. "Aku tidak tahu siapa mereka, tapi ada sesuatu di pulau ini. Seseorang yang terhubung dengan dunia luar. Darah mereka akan menjadi kunci."

Ruvan maju dari lingkaran prajurit, wajahnya serius. "Aku punya dugaan. Kita pernah mencoba ritual pemanggilan sebelumnya, dan kita pikir itu gagal. Tapi bagaimana jika sebenarnya tidak? Bagaimana jika mereka yang kita panggil tidak muncul di sini, tapi terlempar ke bagian lain pulau ini?"

Damon mengerutkan dahi, berpikir keras. "Kau yakin?"

"Laporan terakhir menyebut nama seorang asing. Lynx. Aku yakin dia adalah salah satu dari mereka," kata Ruvan dengan nada penuh keyakinan.

Damon mengangguk perlahan, matanya menyala dengan semangat baru. "Kalau begitu, kita akan menemukannya."

Ia berbalik ke prajurit-prajuritnya. "Sebar ke seluruh pulau. Temukan dia. Bawa dia hidup-hidup ke sini. Tidak ada kegagalan kali ini!"

Para prajurit berseru setuju, lalu menyebar ke segala arah, meninggalkan altar yang kini diam dalam keheningan menyeramkan, penuh dengan noda darah yang mulai mengering.

Di bawah cahaya bulan purnama, Monrest memulai perburuan mereka, dan nama Lynx menjadi tujuan yang tak bisa mereka abaikan.

Beberapa hari setelah meninggalkan perkampungan Sinto, Lynx bergerak dengan cepat melalui hutan. Dengan kekuatannya, ia kadang berlari, melompat dari satu batu besar ke dahan pohon, lalu mendarat dengan mulus di tanah. Pandangannya tajam, setiap detail di sekelilingnya terlihat seolah waktu melambat, memberinya keunggulan besar di tengah hutan yang penuh bahaya.

Lynx mencoba memahami kekuatannya lebih dalam. Ia merasakan energi dari semua penjuru alam—dari udara, tanah, bahkan pepohonan. Namun, yang paling kuat tetaplah energi dari sinar matahari. Ia membiarkan energi itu mengalir alami di dalam tubuhnya, merasakan sensasi alirannya yang seperti arus hangat, tetapi tidak mencoba mengumpulkannya seperti sebelumnya. Ia belum ingin mengambil risiko terluka lagi karena salah langkah.

"Hanya biarkan mengalir," gumamnya, berlari melewati rimbunnya pepohonan. "Tubuh ini... rasanya seperti diisi ulang."

Hutan siang itu cukup tenang, hanya diiringi kicauan burung dan suara angin yang menggoyang dedaunan. Lynx berlari cepat melalui pepohonan, langkahnya ringan namun penuh kewaspadaan. Sejak meninggalkan perkampungan Sinto, ia memanfaatkan perjalanannya untuk memahami lebih dalam kekuatan yang mengalir di tubuhnya. Lynx menemukan berbagai macam rintangan dan binatang buas. Bukannya takut atau menghindar, Lynx justru menggunakan mereka untuk melatihnya bertarung. Lynx dapat merasakan selama dia tenang, dia dapat mengendalikan kekuatannya agar tidak cepat terkuras habis.

Namun, keheningan itu tiba-tiba pecah oleh suara teriakan.

"Tolong! Aduh, aku nggak mau jadi makanan macan! Ada yang dengar nggak?!"


